Saya pernah melihat perdebatan di sebuah media sosial di mana seseorang dengan sombongnya melemparkan tautan jurnal dan kutipan tokoh yang dianggap ahli sebagai senjata pamungkas. Kalimat andalannya kira-kira seperti:
Tuh, sudah ada jurnalnya, yang bicara ahli pula. Makanya banyakin riset t###l!
Tentu saja tidak semua orang yang mengutip jurnal melakukan kesalahan ini. Kritik ini ditujukan pada mereka yang melempar tautan jurnal tanpa benar-benar memahami batasan dan konteks penelitian yang dikutip seolah keberadaan data otomatis melegitimasi interpretasi mereka.
Sialnya, orang-orang seperti ini tidak sadar bahwa adanya data tidak langsung membuat interpretasi mereka valid. Mereka pikir hanya dengan menyodorkan tumpukan kertas akademis, logika mereka otomatis menjadi tak terbantahkan. Padahal membaca jurnal tanpa kemampuan berpikir kritis hanyalah cara lain untuk menjadi bodoh dengan gaya yang lebih elegan.
Jurnal atau artikel berita hanyalah laporan satu eksperimen di satu waktu, yang bisa jadi dilakukan oleh satu tim yang memiliki bias atau metode yang cacat. Di sinilah letak lubang logikanya, di mana mereka gagal memahami "scope" atau batasan penelitian.
Sebuah jurnal ilmiah biasanya hanya menguji variabel A terhadap B dalam kondisi yang sangat spesifik. Tapi para pemuja experts say ini akan mengambil kesimpulan kecil itu dan menjadikannya hukum absolut untuk semua hal di dunia nyata. Dengan kata lain, mereka melakukan Overgeneralization. Mereka tidak paham bahwa dalam metode ilmiah, kebenaran itu bersifat tentatif dan sangat bergantung pada konteks. Mengutip satu jurnal spesifik untuk memukul rata semua hal itu ibarat membaca hasil uji efektivitas satu jenis obat pada tikus lalu mengeklaim obat itu pasti manjur buat manusia. Mereka gagal paham bahwa data itu bukan kebenaran harga mati yang bisa dipakai untuk menjawab semua masalah.
Dalam keilmuan logika formal, cacat logika yang sering dilakukan adalah Affirming the Consequent. Rumusnya seperti ini:
Logikanya begini. Jika seorang ahli mengatakan "Hujan membuat jalanan basah" ($P \implies Q$), secara data itu benar. Tapi jika orang di forum itu melihat jalanan basah ($Q$) lalu menyimpulkan "Maka jalanan ini basah pasti karena hujan" ($\therefore P$), itulah cacat logika. Jalanan bisa basah karena truk tangki air lewat, karena orang menyiram, atau karena pipa bocor. Datanya memang ada, tapi penarikan kesimpulannya sesat.
Contoh lain misalnya ada jurnal yang bilang "Suplementasi vitamin D pada pasien dengan defisiensi terbukti mengurangi gejala depresi dalam studi terkontrol."
Dalam notasi logika seperti ini:
- $P$ = Defisiensi vitamin D
- $Q$ = Gejala depresi
- $P \implies Q$ = Jika defisiensi vitamin D, maka (dapat menyebabkan) gejala depresi (Premis jurnal yang valid dalam scope-nya)
Lalu orang di forum menyimpulkan "Tuh kan, sudah ada jurnalnya! Orang ini depresi, berarti pasti kekurangan vitamin D!"
Kalau dipetakan ke notasi logika:
- $P \implies Q$ = Jika defisiensi vitamin D ($P$), maka gejala depresi ($Q$). (Premis benar)
- $Q$ = Orang ini mengalami gejala depresi. (Fakta/observasi)
- $\therefore P$ = Maka orang ini pasti kekurangan vitamin D. (Kesimpulan sesat)
Depresi bisa disebabkan oleh puluhan faktor lain seperti trauma psikologis, ketidakseimbangan neurotransmitter, faktor genetik, stres kronis, atau kondisi medis lain. Hanya karena defisiensi vitamin D dapat menyebabkan depresi, tidak berarti setiap kasus depresi pasti disebabkan oleh defisiensi vitamin D.
Kesalahan ini muncul bukan pada jurnal itu sendiri karena penelitian yang baik sudah mengontrol variabel dan membatasi kesimpulannya dengan jelas. Kesalahan terjadi pada cara orang mengekstrapolasi hasil penelitian tersebut. Menyodorkan jurnal atau buku tanpa mampu membedah isinya sama saja seperti orang yang memegang peta tapi tidak tahu cara membaca kompas. Mereka bisa punya semua informasi di tangan, tapi tetap tersesat karena tidak tahu arah.
Selain Affirming the Consequent, perilaku mereka adalah bentuk klasik dari Appeal to Authority (Argumentum ad Verecundiam). Ini adalah sesat pikir di mana seseorang menganggap sebuah pernyataan otomatis benar hanya karena diucapkan oleh otoritas tanpa melihat apakah argumennya memang kuat secara substansi.
Gelar Ph.D, profesor, atau posisi di lembaga ternama tidak sama dengan kebenaran absolut. Argumen tetap perlu dievaluasi secara kritis. Ketika seseorang berkata, "Ini benar karena dia ahli," mereka sebenarnya sedang berhenti berpikir dan mulai menjadi pemuja.
Hmmmm, sebenarnya masih ada lagi, yaitu The Burden of Proof Fallacy (Onus Probandi). Mereka merasa dengan melempar tautan jurnal, beban pembuktian (burden of proof) berpindah ke tangan lawan bicara. Mereka akan menantang:
Kalau menurutmu salah, mana jurnal tandingannya?
Jelas ini adalah cacat logika yang parah. Jika mereka yang mengajukan klaim menggunakan sebuah jurnal untuk mendukung argumennya, maka mereka pulalah yang berkewajiban menjelaskan kaitan logika antara data tersebut dengan kesimpulannya. Menuntut orang lain membuktikan mereka salah tanpa mereka sendiri mampu menjelaskan kaitan logikanya adalah bentuk kecacatan intelektual yang akut.
Data ilmiah bukan jimat yang bisa melegitimasi kesimpulan liar apa pun yang diinginkan. Menyodorkan jurnal sebagai senjata terakhir tanpa mampu mempertanggungjawabkan kaitan logisnya hanya membuktikan satu hal, yaitu kecenderungan mereka lebih memuja otoritas ketimbang kebenaran. Referensi sebanyak apa pun tetap tidak akan berguna selama mereka masih terjebak dalam sesat pikir yang mendasar.